Life is simple , just enjoy it , make your self comfort with the wave , let it flow :)
Tampilkan postingan dengan label TUGAS TEORI ORGANISASI UMUM 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUGAS TEORI ORGANISASI UMUM 2. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juni 2014

Bekerjasama Dalam Team (Kelompok) atau Teamwork

     1.      Pengertian dan karakteristik kelompok
Sebagai makhluk sosial, manusia cenderung  hidup dengan cara berkelompok. Berbagai kelompok manusia bisa ditemukan di atas permukaan bumi ini. Dasar pandangan dalam membentuk kelompok itu sendiri bisa berdasarkan dari berbagai macam hal. Mulai dari kelompok orang yang mempunyai hobi yang sama, aktivitas yang sama, sampai kelompok orang yang berasal dari suatu daerah yang sama.

Kelompok adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang berinteraksi dan mereka saling bergantung (interdependent) dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama, meyebabkan satu sama lain saling mempengaruhi (Cartwright&Zander, 1968; Lewin, 1948).

Karakteristik Kelompok
1. Terdiri dari dua orang atau lebih dalam interaksi sosial baik   secara verbal maupun non verbal.
2. Anggota kelompok harus mempunyai pengaruh satu sama lain supaya dapat diakui menjadi anggota suatu kelompok
3. Mempunyai struktur hubungan yang stabil sehingga dapat menjaga anggota kelompok secara bersama dan berfungsi sebagai suatu unit.
4. Anggota kelompok adalah orang yang mempunyai tujuan atau minat yang sama.
5. Individu yang tergabung dalam kelompok, saling mengenal satu     sama lain serta dapat membedakan orang-orang yang bukan anggota kelompoknya.

     2.      Tahapan pembentukan kelompok
Pembentukan sebuah kelompok baik informal atau formal, apakah itu perhimpunan, sebuah tim kerja, kabinet atau negara sekalipun mengikuti sebuah proses yang disebut dinamika kelompok. Robbins dalam bukunya menggambarkan bahwa proses terbentuk dan berprestasinya sebuah kelompok terdiri dari tahap-tahap :
  • Tahap 1 – Forming (pembentukan)
Tahap ini adalah fase pembentukan dimana semua anggota kelompok penuh keceriaan dan hubungan yang terjadi di antara mereka harmonis, seperti sedang berbulan madu.
  • Tahap 2 – Storming (ribut / bertengkar)
Pada tahap ini mulailah terjadi pertengkaran dan perselisihan karena berbagai sebab. Penyebab pertama bisa saja karena visi, tujuan dan sasaran yang harus dicapai tidak jelas atau kelompok lalu bersifat heterogen, yakni mempunyai kepentingan masing-masing yang berbeda. Tetapi semuanya itu mungkin bersumber pada kualitas pemimpinnya atau gaya memimpin yang tidak efektif. Dalam tahap storming ini bisa terjadi bahwa sebuah kelompok yang baru dibentuk langsung bubar atau di reshuffle.
  • Tahap 3 – Norming (menyepakati aturan kerja)
Tahap dimana anggota kelompok mulai cooling down dan menyepakati norma dan aturan main yang akan mereka jadikan pegangan sehingga semua perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan mudah dan semua kepentingan anggota dapat dipenuhi.
  • Tahap 4 – Performing (berprestasi)
Pada tahap ini kelompok telah berhasil menyelesaikan fase norming dan mulailah mereka bekerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.
  • Tahap 5 - Adjourning dan Transforming
Tahap dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap mana pun ketika mereka mengalami perubahan.

     3.      Kekuatan teamwork
Teamwork atau kerja sama tim merupakan bentuk kerja kelompok yang bertujuan untuk mencapai target yang sudah disepakati sebelumnya. Harus disadari bahwa teamwork merupakan peleburan berbagai pribadi yang menjadi satu pribadi untuk mencpai tujuan bersama. Tujuan tersebut bukanlah tujuan pribadi, bukan tujuan ketua tim, bukan pula tujuan dari pribadi paling populer di tim.

Dalam sebuah tim yang dibutuhkan adalah kemauan untuk saling bergandeng-tangan menyelesaikan pekerjaan. Bisa jadi satu orang tidak menyelesaikan pekerjaan atau tidak ahli dalam pekerjaan A, namun dapat dikerjakan oleh anggota tim lainnya. Inilah yang dimaksudkan dengan kerja tim, beban dibagi untuk satu tujuan bersama.

Saling mengerti dan mendukung satu sama lain merupakan kunci kesuksesan dari teamwork. Jangan pernah mengabaikan pengertian dan dukungan ini. Meskipun terjadi perselisihan antar pribadi, namun dalam tim harus segera menyingkirkannya terlebih dahulu. Bila tidak kehidupan dalam tim jelas akan terganggu. Bahkan dalam satu tim bisa jadi berasal dari latar belakang divisi yang berbeda yang terkadang menyimpan pula perselisihan. Makanya sangat penting untuk menyadari bahwa kebersamaan sebagai anggota tim di atas segalanya.

Berikut poin-poin teamwork yang baik:
1. Teamwork adalah kerjasama dlm tim yang biasanya dibentuk dari beragam divisi dan kepentingan.
2. Sama-sama bekerja bukanlah teamwork, itu adalah kerja individual.
3. Filosofi teamwork: ‘saya mengerjakan apa yang Anda tidak bisa dan Anda mengerjakan apa yang saya tidak bisa.
4. Ketika berada dalam teamwork, segala ego pribadi, sektoral, deparmen harus disingkirkan.
5. Dalam teamwork yang dikejar untuk dicapai adalah target bersama, bukan individual.
6. Keragaman individu dalam teamwork memang sebuah nilai plus namun bisa menjadi minus jika tidak ada saling pengertian.
7. Saling pengertian terhadap karakter masing-masing anggota team akan menjadi modal sukses bersama.
8. Jika setiap orang bekerjasama via bidang masing-masing, target korporasi pasti akan segera terealisasi.
9. Individu yang egois mengejar target pribadi akan menghambat keberhasilan team. Bayangkan jika si A mengejar target A & si B mengejar target B, lalu target bersama bermuara kemana?
10. Keahlian masing-masing sungguh menjadi anugerah dalam teamwork yang akan mempercepat proses pencapaian target.
11. Kendalikan ego dan emosi saat bersama agar pergesekan tidak berujung pada pemboikotan kerjasama.
12. Dengan pemahaman yang tinggi soal karakter individu dalam team, realisasi target tidak perlu waktu yang lama.
13. Ingatlah selalu bahwa teamwork makes the dream work.

     4.      Implikasi manajerial

Implikasi manajerial dalam hal pembentukan kelompok sangat terlihat pada pembentukan team work pada suatu organisasi. Organisasi dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan proses organisasi mereka melalui team work. Pemimpin organisasi juga dapat lebih mudah dalam mengontrol anggotanya sehingga dapat memberikan apresiasi sesuai dengan hasil pencapaian baik secara umum melalui team work maupun secara khusus melalui anggota-anggotanya.


Daftar Pustaka:


Minggu, 11 Mei 2014

Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi

A. Definisi dan Dasar Pengambilan Keputusan
Definisi pengambilan keputusan menurut beberapa ahli :
  • Drummond mengemukakan pengambilan keputusan merupakan usaha penciptaan kejadian-kejadian dan pembentukan masa depan
  • George R. Terry pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
  • Sondang P. Siagian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat.
  • James A. F. Stoner  pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah

            “Decision making is which is on choses two or more alternative” (Robins 1997:36), berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat dipahami bawah hakikat pengambilan keputusan ialah memilih dua alternatif atau lebih untuk melakukan suatu tindakan tertentu baik secara pribadi maupun kelompok.

Dasar Pengambilan Keputusan :
Menurut George R. Terry, dasar-dasar pengambilan keputusan adalah :
1.  Intuisi
Suatu proses bawah sadar/tdk sadar yang timbul atau tercipta akibat pengalaman yang terseleksi. Pengambilan keputusan yang berdasarkan atas intusi atau perasaan memiliki sifat subjektif, sehingga mudah terkena pengaruh.
2. Pengalaman
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis.  Karena pengalaman seseorang dapat mempekira-kan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung ruginya, baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan.  Karena pengalaman, seseorang yang menduga masalahnya walaupun hanya dengan melihat sepintas saja mungkin sudah dapat menduga cara penyelesaiannya.
3. Fakta
Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid, dan baik.  Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dpt menerima keputusan-keputusan yang dapat dibuat dengan rela dan lapang dada.
4. Wewenang
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pim-pinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang lebih rendah kedudukannya.  Pengambilan keputusan berdasarkan we-wenang juga memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan.
5. Rasional
Pada pengambilan keputusan yg berdasar-kan rasional, keputusan yg dihasilkan ber-sifat objektif, logis, lebih transparan, kon-sisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, shg dpt dikatakan mendekati kebenaran atau se-suai dgn apa yg diinginkan.

Ada beberapa hal yg harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan secara rasional :
a.      Kejelasan masalah.
b.      Orientasi tujuan.
c.       Pengetahuan alternative.
d.      Preferensi yang jelas.
e.      Hasil maksimal.

B. Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan
a)      Gaya Direktif
Pembuat keputusan gaya direktif mempunyai toleransi rendah pada ambiguitas, dan berorienytasi pada tugas dan masalah teknis. Pembuat keputusan ini cenderung lebih efisien, logis, pragmatis dan sistematis dalam memecahkan masalah. Pembuat keputusan direktif juga berfokus pada fakta dan menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat. Mereka berorientasi pada tindakan, cenderung mempunyai fokus jangka pendek, suka menggunakan kekuasaan, ingin mengontrol, dan secan menampilkan gaya kepemimpinan otokratis.
b)     Gaya Analitik
Pembuat keputusan gaya analitik mempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang  kuat serta orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi; pada kenyataannya, mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu. Mereka mengevaluasi lebih banyak informasi dan alternatif darpada pembuat keputusan direktif. Mereka juga memerlukan waktu lama untuk mengambil kepuputusan mereka merespons situasi baru atau tidak menentu dengan baik. Mereka juga cenderung mempunyai gaya kepemimpinan otokratis.
c)      Gaya Konseptual
Pembuat keputusan gaya konseptual mempunyai toleransi tinggi untuk ambiguitas, orang yang kuat dan peduli pada lingkungan sosial. Mereka berpandangan luas dalam memecahkan masalah dan suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa mendatang. Pembuat keputusan ini membahas sesuatu dengan orang sebanyak mungkin untuk mendapat sejumlah informasi dan kemudian mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan. Pembuat keputusan konseptual juga berani mengambil risiko dan cenderung bagus dalam menemukan solusi yang kreatif atas masalah. Akan tetapi, pada saat bersamaan, mereka dapat membantu mengembangkan pendekatan idealistis dan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.
d)     Gaya Perilaku
Pembuat keputusan gaya perilaku ditandai dengan toleransi ambiguitas yang rendah, orang yang kuat dan peduli lingkungan sosial. Pembuat keputusan cenderung bekerja dengan baik dengan orang lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran pendapat. Mereka cenderung menerima saran, sportif dan bersahabat, dan menyukai informasi verbal daripada tulisan. Mereka cenderung menghindari konflik dan sepenuhnya peduli dengan kebahagiaan orang lain. Akibatnya, pembuat keputusan mempunyai kesulitan untuk berkata 'tidak' kepada orang lain, dan mereka tidak membuat keputusan yang tegas, terutama saat hasil keputusan akan membuat orang sedih.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
  •  Faktor Fisik
  • Emosional
  • Rasional
  • Praktikal
  • Interpersonal dan Struktural

Proses yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan dalam organisasi yaitu :
  • Adanya pengaruh tekanan dari luar
Adanya pengaruh tekanan dari luar merupakan suatu proses  yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan, dikarenakan proses cepat atau lambatnya pembuat keputusan tergantung dari banyaknya tekanan diterima. Kadang pembuat keputusan ragu-ragu dalam menentukan, namun adanya pengaruh tekanan dari luar dapat mempercepat keputusan yang diambil. Hal ini dikarenakan tidak adnaya ketegasan dari pemimpin organisasi dalam penyelesaian masalah.
  • Adanya pengaruh kebiasaan lama atau sifat-sifat pribadi
Faktor sifat yang baik maupun tidak baik yang ada dalam diri seorang pembuat keputusan, merupakan hal yang dapat mempengaruhi keputusannya tersebut . Dalam hal ini seorang pembuat keputusan akan terbiasa dengan sifat pribadinya. Hal ini dapat dilihat dari sisi kepribadian seorang pemimpin, bagaimana dia mengambil sebuah keputusan dalam mengahadapi masalah. Tentunya seorang oemimpin organisasi harus bijaksana dalam.
  • Pengaruh dari kelompok lain
Kelompok lain juga dapat mempengaruhi suatu keputusan dikarenakan kelompok atau organisasi tersebut mempunyai keputusan yang dapat dipertimbangkan oleh pemimpin organisasi lain dalam menyikapi masalah dan pengaruh kelompok lain ini juga dapat menjatuhkan organisasi serta mementingkan kepentingan kelompok tersebut.
  • Faktor pengalaman
Faktor pengalaman seorang pembuat keputusan adalah hal yang sangat penting, karena banyaknya pengalaman orang tersebut maka ia akan berani dalam menentukan keputusan. Hal ini juga berkaitan terhadap keahlian yang dimiliki oleh pemimpin atau anggota karena pengalaman yang pernah dialaminya.

D. Implikasi Manajerial
            Implikasi teori-teori di atas terhadap sebuah organisasi adalah bahwa teori ini memandang pentingnya komunikasi dalam menjalankan kepemimpinan dengan macam-macam gaya yang berbeda dari para pemimpin dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan oleh para pemimpin akan menghasilkan sesuatu yang mengagumkan karena semua pengambilan keputusan harus didasari dengan pemikiran yang matang, manajemen pengambilan keputusan dan ketepatan memilih gaya pengambilan keputusan yang tepat dalam sebuah organisasi. Jika dasar-dasar di tersebut dapat dipenuhi maka dapat diambil keputusan yang efektif dan bermanfaat bagi organisasi.

Daftar Pustaka :
Syafaruddin Anzhizan, Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan.
SETIOKO, AJI.  Pengambilan Keputusan Dalam Perilaku Organisasi. UNNES (Universitas Negeri Semarang), 2010.
Ir. Indrawani Sinoem, MS Dasar-Dasar Pengambilan Keputusan.
Persepsi pegawai terhadap pengambilan keputusan , Litna Diana (Program Studi Administrasi Pendidikan FIP UNP). Vol. 1 No. 1, Oktober 2013.


Senin, 14 April 2014

Kepemimpinan

1. Arti Penting Kepemimpinan
Apa Kepemimpinan itu? Para ahli kepemimpinan mendefinisikan kepemimpinan secara berbeda-beda. Northouse mencatat ada 65 klasifikasi atas definisi kepemimpinan, lalu Northouse merangkumnya sebagai berikut:
PERSPEKTIF
PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Focus of group processes
Pemimpin merupakan pusat segala aktivitas dan perubahan kelompok. Pemimpin adalah pusat kehendak yang menggerakkan aneka aktivitas, perubahan dan perkembangan kelompok (organisasi).
Personality perspective
Pemimpin merupakan perpaduan antara bakat khusus dan karakteristik individu, yang memimiliki kemampuan untuk mendelegasikan tugas pada orang lain secara sempurna.
Act atau behavior
Kepemimpinan merupakan seperangkat tindakan dan perilaku tertentu yang mampu menggerakkan perubahan dalam organsisasi.
Power relationship
Kepemimpinan adalah relasi antara pemimpin dan yang dipimpin.
Instrument of goal achievement
Kepemimpinan adalah upaya membimbing anggota mencapai tujuan bersama.
Skills perspective
Kepemimpinan adalah kapabilitas yang membuatnya bekerja secara efektif.

Kemudian dijelaskan bahwa kepemimpinan itu adalah proses, didalam kepemimpinan ada pengaruh, konteks kepemimpinan adalah kelompok, ada unsur pencapaian tujuan. Secara sederhana kepemimpinan didefinisikan sebagai suatu proses dimana seseorang punya pengaruh dalam suatu organisasi untuk menggerakkan individu lain meraih tujuan bersama.

2. Tipologi Kepemimpinan
Tipologi dan karakter kepemimpinan itu digali dari sejarah peradaban manusia, dari literatur ilmiah serta dari informasi kitab suci. Secara umum ada dua tipe kepemimpinan dunia yaitu tipe hard power dan soft power. Saat ini tipe kemepimpinan dunia telah lebih banyak bergeser dari tipe hard power ke soft power. Sementara karakter kepemimpinan di antaranya adalah mampu membawa perubahan sosial, visoner, berbasis kompetensi dan berlandaskan iman dan takwa (Imtak).

Tipologi pemimpin dunia ada 2 (dua) macam, yaitu tipe hard power dan soft power. Tipe pemimpin hard power telah berlangsung selama berabad-abad lamanya dan mengalami puncaknya pada era perang dunia I dan perang dunia II. Setelah itu, tipologi kepemimpinan dunia mulai beralih ke tipe soft power yang lebih mengedepankan prinsip demokratis daripada otoriter.

Untuk kepemimpian di Indonesia, maka tipe ideal yang diharapkan tentunya adalah tipe soft power yang dibekali dengan empat karakter dasar yaitu: mampu membawa perubahan, visioner, berkompeten dan berlandaskan iman dan takwa.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepemimpinan
A.      Faktor Kemampuan Personal
Pengertian kemampuan adalah kombinasi antara potensi sejak pemimpin dilahirkan ke dunia sebagai manusia dan faktor pendidikan yang ia dapatkan. Jika seseorang lahir dengan kemampuan dasar kepemimpinan, ia akan lebih hebat jika mendapatkan perlakuan edukatif dari lingkungan, jika tidak, ia hanya akan menjadi pemimpin yang biasa dan standar. Sebaliknya jika manusia lahir tidak dengan potensi kepemimpinan namun mendapatkan perlakuan edukatif dari lingkunganya akan menjadi pemimpin dengan kemampuan yang standar pula. Dengan demikian antara potensi bawaan dan perlakuan edukatif lingkungan adalah dua hal tidak terpisahkan yang sangat menentukan hebatnya seorang pemimpin.

B.      Faktor Jabatan
Pengertian jabatan adalah struktur kekuasaan yang pemimpin duduki. Jabatan tidak dapat dihindari terlebih dalam kehidupan modern saat ini, semuanya seakan terstrukturifikasi. Dua orang mempunyai kemampuan kepemimpinan yang sama tetapi satu mempunyai jabatan dan yang lain tidak maka akan kalah pengaruh. sama-sama mempunyai jabatan tetapi tingkatannya tidak sama maka akan mempunya pengarauh yang berbeda.

C.      Faktor Situasi dan Kondisi
Pengertian situasi adalah kondisi yang melingkupi perilaku kepemimpinan. Disaat situasi tidak menentu dan kacau akan lebih efektif jika hadir seorang pemimpin yang karismatik. Jika kebutuhan organisasi adalah sulit untuk maju karena anggota organisasi yang tidak berkepribadian progresif maka perlu pemimpin transformasional. Jika identitas yang akan dicitrakan oragnisasi adalah religiutas maka kehadiran pemimpin yang mempunyai kemampuan kepemimpinan spritual adalah hal yang sangat signifikan. Begitulah situasi berbicara, ia juga memilah dan memilih kemampuan para pemimpin, apakah ia hadir disaat yang tepat atau tidak.

4. Implikasi Manajerial Kepemimpinan Dalam Organisasi
Semua organisasi yang dibentuk, pasti harus mempunyai pemimpin yang menggunakan konsep kepemimpinan karena ada unsur filosofi (pandangan), pengaruh, tujuan, tantangan, dan sumber daya di dalamnya. Semua faktor-faktor yang ada harus diatur dan dikelola supaya bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan kata lain harus ada konsep kepemimpinan dalam organisasi.
Pada tataran praktis-managerial, konsep kepemimpinan juga harus diterapkan sehinga dalam organisasi terkonsep rapi, bersinergis, dan efektif.

Daftar Pustaka
Menjadi Pemimpin Politik, M Alfan Alfian, 2009.
Kepemimpinan Dalam Manajemen, Dr. Winardi SE.
Kepemimpinan Dan Motivasi, Wahjosumidjo, 1933.
Rasim, Ahmad. "TIPOLOGI DAN KARAKTER IDEAL KEPEMIMPINAN DUNIA".

Selasa, 18 Maret 2014

Peran Komunikasi Dalam Organisasi

Kehidupan manusia di dunia ini tidak dapat dilepaskan dari komunikasi karena komunikasi adalah bagian dari sistem kehidupan sosial manusia, yang dapat dilihat dari setiap aspek kehidupan sehari-hari manusia atau masyarakat itu sendiri.

     A.   Definisi dan Arti Penting Komunikasi
Apa itu komunikasi ? komunikasi berasal dari bahasa Latin communicatio yang berarti pemberitahuan atau pertukaran pikiran. Secara garis besar, dalam suatu proses komunikasi haruslah terdapat unsur-unsur kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran dan pengertian antara komunikator (penyebar pesan) dan komunikan (penerima pesan).
Komunikasi dapat diartikan sebagai bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak disengaja dan tidak dibatasi oleh komunikasi verbal saja, tetapi juga dalam ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi.
Dari beberapa definisi diatas kita dapat menggolongkan 3 pengertian utama komunikasi, yaitu :
    1. Secara etimologis, komunikasi diartikan menurut asal usul kata, berasal dari bahasa latin communicatio yang berasal dari kata comminis yang berarti sama makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan.
      2. Secara termologis, komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.
   3. Secara paradigmatis, diartikan bahwa komunikasi adalah suatu pola yang meliputi sebuah komponen berkolerasi satu sama lain secara fungsional untuk mencapai tujuan tertentu.
Kemudian seberapa penting komunikasi dalam kehidupan manusia ? dapat dilihat dari hasil penelitian yang menyatakan persentase waktu yang digunakan untuk proses komunikasi adalah sangat besar, berkisar antara 75 % -  90 % dari jumlah waktu kegiatan (Jiwanta,1982)
Oleh karena itu, komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan masyarakat. Manusia terlibat dalam kegiatan komunikasi dalam kehidupan sosial, sehingga manusia dapat saling berdekatan dalam suatu komunitas. Manusia butuh saling berdekatan agar merasa berada dalam suatu komunitas dan tidak merasa sendirian di dunia (Tannen,1996).

     B.    Jenis dan Proses Komunikasi
      1.      Komunikasi lisan
komunikasi lisan secara langsung adalah komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang saling bertatap muka secara langsung dan tidak ada jarak atau peralatan yang membatasi mereka. lisan ini terjadi pada saat dua orang atau lebih saling berbicara/ berdialog, pada saat wawancara, rapat, berpidato.
komunikasi lisan yang tidak langsung adalah komunikasi yang dilakukan dengan perantara alat seperti telepon, handphone, VoIP, dan lain sebagainya karena adanya jarak dengan si pembicara dengan lawan bicara.
      2.      Komunikasi tulisan
Komunikasi tulisan adalah komunikasi yang di lakukan dengan perantaraan tulisan tanpa adanya pembicaraan secara langsung dengan menggunakan bahasa yang singkat, jelas, dan dapat dimengerti oleh penerima. Komunikasi tulisan dapat berupa surat-menyurat, sms, surat elektronik, dan lain sebagainya. Komunikasi tulisan juga dapat melalui naskah-naskah yang menyampaikan informasi untuk masyarakat umum dengan isi naskah yang kompleks dan lengkap seperti surat kabar, majalah, buku-buku.  dan foto pun dapat menyampaikan suatu komunikasi secara lisan namun tanpa kata-kata. Begitu pula dengan spanduk, iklan, dan lain sebagainya.
Ide – Encoding – Pengiriman – Decoding – Balikan
      1.      Ide
Diciptakan oleh sumber/komunikator.
      2.      Encoding
Ide dirubah menjadi lambang-lambang komunikasi yang mempunyai makna.
      3.      Pengiriman
Ide yang sudah di encoding dikirimkan melalui media yang sesuai.
      4.      Decoding
Penerima menafsirkan isi pesan sesuai persepsinya.
      5.      Balikan
Sesudah diterima, pesan dikirim kembali ke komunikator.

Agar terjadi proses komunikasi, Harold D Laswell menyebutkan ada 5 komponen komunikasi, yaitu :
      1.      Komunikator
      2.      Pesan
      3.      Media
      4.      Komunikaan
      5.      Pengaruh

C. Komunikasi efektif
Kemampuan komunikasi merupakan faktor penentu kesuksesan setiap  individu maupun organisasi untuk bertahan dalam persaingan bisnis yang sangat kompetitif saat ini. Kemampuan komunikasi seseorang dalam organisasi diperlukan dalam setiap aktivitas organisasi. Melihat pentingnya komunikasi dalam organisasi, efektivitas komunikasi akan sangat menentukan kesuksesan organisasi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang (Griffith, 2002).
Kemampuan individu untuk menyampaikan pesan atau informasi dengan baik, menjadi pendengar yang baik, menggunakan berbagai media audio-visual merupakan bagian penting dalam melaksanakan komunikasi yang efektif dalam suatu organisasi. Steven Covey mengibaratkan komunikasi adalah napas kehidupan makhluk. Ia menitikberatkan pada konsep saling ketergantungan untuk menjelaskan hubungan antarmanusia. Faktor penting dalam komunikasi tidak sekadar pada apa yang ditulis atau dikatakan seseorang, tetapi lebih pada karakter seseorang dan bagaimana sesorang dapat menyampaikan pesan kepada penerima pesan. Untuk membangun komunikasi yang efektif diperlukan lima dasar penting yaitu :
      -          usaha untuk benar-benar mengerti orang lain
      -          kemampuan untuk memenuhi komitmen
      -          kemampuan untuk menjelaskan harapan
      -          kemauan untuk meminta maaf secara tulus jika melakukan kesaahan
      -          kemampuan memperlihatkan integritas
Untuk menciptakan komunikasi yang efektif, seorang komunikator harus  mampu mengidentifikasi sasaran yang menjadi penerima pesan, menentukan tujuan efektivitas komunikasi, merancang pesan, memilih media, memilih sumber pesan, dan mengumpulkan umpan balik. Dalam mengidentifikasi sasaran atau penerima pesan perlu diperhatikan beberapa hal diantaranya adalah menentukan, mengenali dan mempelajari siapa yang akan dijadikan sasaran (Xie et al.,2008).

D. Implikasi Manajerial
Dalam kamus besar bahasa Indonesia implikasi mempunya arti yaitu akibat. Kata implikasi sendiri dapat merujuk ke beberapa aspek salah satu aspek yang akan saya bahas kali ini implikasi manajerial. Dalam manajemen sendiri terdapat 2 implikasi yaitu :
1. Implikasi prosedural meliputi tata cara analisis, pilihan representasi, perencanaan kerja dan formulasi kebijakan
2. Implikasi kebijakan meliputi sifat substantif, perkiraan ke depan dan perumusan tindakan.
Jadi implikasi manajerial memiliki arti proses pengambilan keputusan partisipatif dalam organisasi manajerial yang baik

Daftar Pustaka
Pengantar Teori & Manajemen Komunikasi, Drs. Tommy Suprapto, M.S.
Pengantar Ilmu Komunikasi, Wiryanto.
Komunikasi Bisnis, Djoko Purwanto, M.B.A.
Jurnal Manajemen, Vol.7, No.4, Mei 2009, Hassa Nurrohim & Lina Anatan, Efektivitas Komunikasi Dalam Organisasi